BAHAYA BURUK SANGKA

Buruk sangka atau dalam islam di sebut su’udzon, adalah prasangka yang menganggap seseorang telah atau akan melakukan suatu perbuatan buruk. Namun pelaku yang berburuk sangka belum sampai mengucapkan sangkaannya itu terhadap orang yang bersangkutan.

Akibat paling buruk dari su’udzon adalah berujung pada fitnah. Dimana dalam islam dosa lebih kejam daripada pembunuhan.

Seperti petikan ayat berikut

Seperti yang aku alami siang tadi, aku hampir saja memfitnah orang, gara-gara aku berburuk sangka.

Siang tadi seperti biasa aku bekerja, membawa beberapa alat ada gergaji, jumput, alat ukur (meteran) sendok pasir dan lain-lain. Aku bekerja bergerombol 4 orang. Dua orang yaitu aku dan satu temanku dari Banjarnegara. Satu orang dari Cirebon dan satu orang lagi dari Sukabumi.

Sekitar jam sepuluh menjelang siang, teman kerjaku yang dari Cirebon pinjam gergaji ku untuk memotong kaso, karena dia tidak membawa gergaji sendiri. Setelah itu aku lihat di taruh begitu saja di atas tanah. Aku pun membiarkan saja karena agak sibuk, lagi pula tempatnya bersebelahan dan terhalang anyaman besi. Mau di ingatkan biar di kembalikan ke tempat semula, rasanya nggak enak takut di kira crewet. Akhrinya aku biarkan saja.

Waktu berlalu menjelang waktu istirahat, aku bergegas megumpulka alat-alat ku. Namun gergaji yang tadi di pinjam tak kelihatan. Aku pun mencari kesana kemari. Di tempat teman ku menaruh tadi juga tak ada. Temanku pun ikut mencari. Namun seperti ada yang dia sembunyikan. Dia tampak gelisah. Entah karena dia merasa bersalah atau khawatir bila gergaji ku hilang suruh ganti. Apalagi waktu gajian masih lama, sementara gajian minggu kemarin uang dia sudah di kirimkan semua ke kampung. Sementara untuk makan dia ngutang di warung, dan baru akan di bayar setelah gajian. Hal itu memang biasa bagi kami, para pekerja bangunan yang bekerja di luar daerah.

Aku agak curiga kalau dia sengaja ngumpetin gergajiku. Kecurigaan ku bukan tanpa alasan. Dia status pekerjaannya dalam proyek bangunan ini, adalah tukang. Dan seharusnya tukang itu bawa alat lengkap. Sementara dia hanya bawa sendok pasir dan meteran saja. Yang kebih bikin aku curiga, dia bawa meteran tapi, kalau dia mau mengukur sesuatu selalu pinjam milik ku atau teman ku yang lain. Seolah dia takut kalau alatnya hilang atau rusak di pakai.

Gelagatnya pun cukup mencurigakan dia senyam senyum nggak jelas. Kelihatannya juga dia nggak serius mencari, padahal cuma dia yang pakai gergaji ku. Aku sendiri nggak menggunakan gergaji dari pagi sampai siang, karena aku mengikat besi dan alatnya pastilah jumput (gegep). Sambil menggerutu pelan karena takut kedengaran sama pak Suhana yang pinjam gergaji ku tadi, sebab kecurigaan ku belum ada bukti. Takutnya aku yang lupa menaruh. Dan nggak enak kalau aku menuduh dia ngumpetin, ternyata nggak bener. Karena itu, aku tetap menahan rasa kesalku.

Akhirnya aku coba tanya sama teman lain yang beda rombongan, namun masih satu mandor. Sebab tadi ada yang mendekat ke tempat dimana aku kerja di situ. Barang kali ada yang minjem tapi nggak bilang. Setelah aku tanya, ternyata tak ada yang pinjam.

Aku pun kembali ketempat tadi, untuk mencari sekali lagi. Ketika aku sampai situ teman ku yang kain terlihat sedang membuka karung yang biasa aku gunakan untuk menyimpan alat. Kemudian dia menarik gergaji ku dan ternyata gergaji itu ada di karung. Dengan rasa senang sekaligus sedikit rasa malu, sebab aku sempat menunjukan rasa kesal sama pak Suhana. Aku nggak tau apakah aku yang sudah memasukan kedalam karung tapi lupa. Atau teman ku yang tadi pinjam yang menaruh tapi dia juga lupa. Karena dia sendiri seperti tidak percaya kalau alat itu sudah berada di dalam karung.

Setelah alat itu di temukan teman ku yang tadi pinjam langsung meminta maaf, karena pinjam alat nggak langsung di kembalikan setelah selesai di pakai. Sehingga jadi bikin bingung aku yang punya gergaji. Aku pun bilang nggak apa apa yang penting sudah ketemu. Sebenarnya aku sendiri merasa bersalah. Walau pun tidak secara terang terangan menuduh dia menyembunyikan gergaji ku, tapi sempat berfikir seperti itu. Dan menunjukan rasa kesal ku.

Setelah itu kami pun segera menuju warung untuk makan. Sambil makan , kami pun sedikit membahas masalah tadi. “Kok bisa gergaji di tempat segitu nggak ketemu?” celetuk salah satu temanku yang dari Sukabumi, entah siapa namanya karena dia anak baru dan belum tau namanya. Sambil tersenyum aku pun menyahut “Iya , aku juga heran. Untungnya aku nggak menuduh pak suhana yang ngumpetin hehehe.” Lalu sambil tersenyum dan tertawa kecil, pak Suhana yang tadi pinjam gergaji ku ikut menimpali “Hahaha iya, tadi juga aku sempat khawatir kalau mas juman mengira saya sengaja ngumpetin itu gergaji.” Kami semua pun tertawa.

Selesai makan kami istirahat sebentar. Tak terasa waktu menunjukan pukul satu dan kami pun kembali melanjutkan pekerjaan kami. Sambil bekerja, biar nggak terlalu tegang dengan pekerjaan kami bercengkrama. Ada yg bercerita pengalamannya selama hidup pernah merantau kemana saja. Ada yang bercerita masalah keluarganya. Dan tibalah giliran pak suhana bercerita bahwa dia punya delapan orang anak, namun yang tiga telah meninggal dunia.

Tak seperti tadi, ketika gergaji ku belum di temukan. Dimana senyum pak suhana seperti menyembunyikan sesuatu. Kali ini senyum dan tawa dia tampak biasa. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin karena tadi aku menaruh curiga padanya jadi, senyumnya seolah terkesan menyembunyikan sesuatu.

Karena dia sudah bercerita punya seorang istri dan lima anak yang harus di nafkahi. Aku berkesimpulan kenapa dia tak punya banyak alat, mungkin karena uang hasil kerjanya baru cukup untuk menghidupi keluarganya. Dan kenapa dia seperti sayang menggunakan akat yang dia punya, seperti meteran yang lebih sering pinjam daripda pakai punya sendiri. Mungkin biar tidak cepat rusak. Akhirnya aku pun memaklumi kalau dia pinjam alat-alat ku. Itu hanya kesimpulan ku saja, sebab dia nggak cerita kenapa dia nggak ounya banyak alat, padahal statusnya tukang. Dan aku pun nggak berani tanya, takut dia tersingggung.

Tapi, untungnya tadi aku tidak menuduh dia mengambil gergaji ku. Walau kecurigaan ku sangat besar. Seandainya tadi langsung menuduh dia. Pastilah aku sudah melakukan perbuatan keji. Memfitnah orang tanpa bukti, dan hanya dengan dasar rasa curiga. Bayangkan jika tadi aku langsung menuduh dia ngumpetin gergaji ku. Namun ternyata ada dalam karung. Selain aku mendapat dosa besar, telah memfitnah pak suhana, pasti dia juga bakal marah dan pertemanan kami akan berakhir. Bahkan mungkin akan berujung cekcok, atau bahkan perkelahian.

Dari kejadian tadi aku belajar agar lebih berhati hati dalam berprasangka.

Catatan:

Prasangka buruk adalah salah satu cikal bakal dari adanya finah. Selain di dasari penyakit hati seperti iri, dengki dan hasut, fitnah juga bisa terjadi karena prasangka buruk (su’udzon).

5 respons untuk ‘BAHAYA BURUK SANGKA

Add yours

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: