Jika Anak Adalah Harta Paling Berharga, Berapa harga seorang anak?

Sebuah renungan

Jika kita di tanya Seberapa berharga anak bagimu? Pasti anda akam menjawab anak adalah harta paling berharga.

Tapi ketika pertanyaan di ubah menjadi berapa harga seorang anak?

Pertanyaan konyol, mungkin itu yang terlintas di benak anda jika mendengar itu.

Beberapa hari yang lalu, saya melihat seorang wanita mengunggah sebuah foto seorang anak, yang saya perkirakan berusia 4 atau 5 tahun. Foto itu di bubuhi captionAnak adalah harta paling berharga”. Kalimat yang biasa saya lihat di jejaring sosial seperti facebook atau isntagram.

Karena jumlah komentar yang lumayan banyak, aku jadi kepo. Ingin tau apa komentar yang teman-temannya berikan pada foto itu. Namun ketika aku melihat beberapa komentar, ada komentar yang menggelitik angan ku. Sebenarnya bukan komentar temannya yang menggelitik. Tapi jawaban dari si pemosting foto, yang saya rasa bersebrangan dengan caption yang ia tulis.

Dalam unggahan foto itu, si teman pengunggah foto menuliskan. “Cantik banget anakmu. Udah pantes di kasih adik lhooo”

Dan jawaban si pengunggah foto begini “Ah belum berani. Satu aja kewalahan. Apalagi bentar lagi harus masuk sekolah. Kalau di kasih adik entar tambah repot. Nggak kebayang seperti apa repotnya punya 2 anak.”

Melihat tulisan itu aku jadi berfikir. Jika anak adalah harta paling berharga, kenapa kebanyakan orang seperti takut punya anak lebih dari satu.

Apakah mereka yang suka berkata anak adalah harta paling berharga itu, benar-benar menganggap seperti itu? Atau hanya sekedar ingin di anggap sebagai orang tua yang penyayang? Atau mungkin juga agar di kira sebagai hamba yang bersyukur atas titipan anak yang tuhan berikan. Atau konteks dan pemahaman ku saja yang berbeda.

Sebuah Fakta yang ironis

Banyak orang berkata bahwa harta hanyalah titipan. Begitupun dengan anak. Anak juga titipan dari tuhan.

Meski sama-sama titipan. Ketika kita di tanya. Mana yang lebih berharga bagimu? Anak atau harta? Bisa di pastikan semua dari kita akan menjawab anak.

Tapi kenyataannya. Tidak ada satu orang pun yang menunda apalagi menolak, jika di beri titipan harta.

Sementara jika di beri titipan berupa anak. Kebanyakan dari kita masih seperti keberatan. Terutama yang sudah memiliki lebih dari satu atau dua anak.

Aku menulis ini bukan untuk menghakimi wanita si pengunggah foto yang saya ceritakan di atas. Tapi sebagai renungan bagi saya sendiri. Dan mungkin juga anda yang kebetulan mampir di blog saya ini.

Benarkah kita menganggap anak sebagai harta paling berharga? Jika kenyataannya, kehadiran anak terkadang masih kita anggap sebagai beban.

Tulisan ini juga bukan untuk membahas masalah orang lain. Cerita di atas hanyalah gambaran diri kita. Bukan cuma dia atau mereka. Kita pun terkadang masih seperti itu.

Karena kenyataannya istri ku pun pernah menggunakan alat kontrasepesi. Untuk menunda kehamilan, padahal anak naru satu. Walau sekarang sudah tidak lagi sekitar satu tahun terakhir.

Dari sudut pandang lain, menunda kehamilan di anggap sebagai cara terbaik meminimalisir lonjakan jumlah penduduk. Tapi dari sisi agama dan keimanan kita terhadap kuasa Tuhan. sepertinya hal itu masih menunjukan lemahnya iman kita.

Kenapa…???

Bukankah Alloh menjamin rizki bagi masing masing makhluk? Termasuk rizki bagi masing-masing anak.

Kesimpulannya:

Benarkah kita menganggap anak sebagai harta paling berharga? Atau itu hanya kalima indah tiada makna.

Entahlaaaahhh…….

23 respons untuk ‘Jika Anak Adalah Harta Paling Berharga, Berapa harga seorang anak?’

Add yours

    1. Ya begitula kbnyakan orang. Mungkin juga termasuk saya..

      Ketika kbnykan orng takut punya bnyk ana. Sampean malah lg berharap punya anak. Semangat tetap berdoa dan berusaha. Semoga segera di kabulkan. Saya ikut mendoakan mbak.. Aamiin…

      Disukai oleh 1 orang

  1. Tidak sedikit juga yg menyatakan, banyak anak banyak rezeki. Tp masih saja banyak ditemukan orang yg memiliki anak lebih dari 1 namun masih dibawah garis kemiskinan. Saya sendiri juga masih belum mengerti kenapa bisa demikian. Padahal, Allah menjamin rezeki setiap makhluk ciptaanNya bahkan yg tersembunyi di dalam perut bumi sekali pun.

    Disukai oleh 2 orang

    1. Walaaah kalau nyampai situ ilmu ku blm sampai hihihi. Dan tulisan itu bukan untuk menjasitifikasi mereka yg takut punya bnyak anak. Tapi hanya renungan untuk saya pribadi atau bagi pembaca yg sudi merenungkan hal itu…

      Sementara dengan kalimat bnyak orng yg hidup di bawah garis kemiskinan. Saya masih mempertanyakan. Seperti apa definisi miskin yg sesungguhnya..

      Faktanya banyak di jaman sekarang. Punya motor bahkan satu keluarga sampai ada yg sampai tiga motor. Tapi di sisi lain dia merasa miskin. Dan ketika ada bantuan khusus orng miskin dia rela di rumahnya di tempeli stiker dengan tulisan “Saya benar benar kekuarga miskin” agar bisa mendapat bantuan dr pemerintah..

      Ngomog² terimakasih sudah berkunjung ke blog saya mas…

      Disukai oleh 1 orang

      1. Hehehe saya juga masih belajar mas. Sulit bagi manusia yg terbatas oleh usia untuk menjelajahi samudera ilmu sampai khatam.
        Kalo masalah orang yg punya tiga motor tp masih merasa miskin, mungkin itulah hakikat manusia, mereka tidak akan pernah berhenti sampai benar-benar berada di “puncak”. Bahkan mereka yg sudah berada di “puncak” masih ingin “menggapai bintang”. Hanya saja, mereka yg bijak pasti tahu dimana batasan mereka.
        Iya mas sama-sama, terima kasih juga udah mampir ke blog saya 🙏

        Disukai oleh 1 orang

  2. Assalamu’alaikum Pak. Sungguh tulisan yang membawa renungan bagi kita semua. Tapi bolehkah saya menambahkan sudut pandang lain, Pak, berkaitan dengan anak merupakan harta yang paling berharga? Mungkin jika anak dianggap harta, pasti orang tua akan berusaha membesarkan dan menjaga dengan baik. Mungkin cukup itu saja yang penting. Untuk apa menambah lagi kalau belum tentu mapan nasib anak yang pertama? Belum lagi disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan psikis orang tua yang belum tentu siap menanggung lebih dari satu. Kesehatan istri juga sangat dipertaruhkan dalam melahirkan dan membesarkan anak. Takutnya, malah marak kasus-kasus seperti manusia gerobak di Jakarta atau seperti kisah Nujood Ali yang karena ekonomi, anak-anaknya dinikahkan saat usia yang belum sesuai untuk berumah tangga. Sekian terimakasih, Pak. Mohon maaf bila kurang berkenan

    Disukai oleh 1 orang

    1. Bagus komentar seperti ini sangat berarti bagi saya. Setiap oramg punya sudut pandang masing-masing. Dan dengan melihat dr sudut pandang orang lain kita jadi tau bahwa tidak semua orang meniliki cara pandamg seperti kita.

      Yang terpenting adalah tidak egois dan menganggap bahwa sudut pandangnya dan pemikirannya yg paling benar.

      Terimakasih sudah mampir dan memberikan tanggapan di blog saya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: