4 Alasan Kenapa Balita Perlu diberi Hukuman

Sekitar empat hari yang lalu, saya baru saja menghukum anakku yang baru berusia 2 tahun. Itu merupakan hukuman pertama yang aku tujukan untuk anakku. Sebenarnya, itu telah mencederai keyakinan yang selama ini aku pegang. Selama ini saya meyakini bahwa balita tidak boleh diberi hukuman. Dan agar anak nurut tidak perlu memberikan hukuman, terutama anak yang masih balita (bawah lima tahun).

Tapi, ternyata apa yang saya lakukan memberikan dampak positif.

Dari kejadian itu saya belajar agar anak nurut, adakalanya perlu di beri hukuman. Walaupun masih balita.

Sedikit cerita. Kenapa saya meghukum anakku yang masih balita yang baru berusia 2 tahun lebih. Sebelum memberikan hukuman. Aku beberapa kali mendapati anakku pipis di celana. Bagi sebagian orang, melihat anak sesusia itu pipis di celana mungkin dianggap wajar.

Tapi bagiku tidak, kenapa? Sebab sebelumnya dia sudah terbiasa pipis dengan melepas celana atau roknya (sebab anakku perempuan). Meski tidak selalu ke toilet. Tapi setidaknya, dia sudah tebiasa melepas celananya ketika hendak pipis sejak usia sekitar satu tahunan. Hal ini tentu tidak lepas dari peran istriku, yang membiasakan anak kami untuk melepas celana ketika hendak pipis.

Tak ingin hal itu terus terjadi, sebab aku khawatir jika sampai anakku tumbuh menjadi anak bandel. Aku ingin menegur dia, apabila dia masih melakukan hal itu. Tapi aku bingung, bagaimana cara mengatasi anak 2 tahun yang bandel. Termasuk suka pipis dicelana. Saya anggap bandel karena sebelumnya sudah terbiasa melepas celanya jika hendak pipis. Sementara di marahi sepertinya sangat tidak mungkin.

Kita pasti pernah dengar kan? membentak anak dapat merusak milyaran sel otaknya. Karena itu aku selalu berusaha menghindari membentak anak.

Di hari berikutnya sekitar jam delapan malam. Karena anakku suka tidur sampai agak malam. Bahkan kadang jam sembilan malam baru tidur. Dia kembali melakukan hal itu. Pipis dicelana sambil tiduran. Secara spontan aku mencubit pahanya (dekat lutut). Saat aku cubit dia hanya diam, namun langsung menangis ketika melihat mataku melotot dan wajah memerah. Tanpa sepatah katapun terucap dari mulut ku.

Tentu saja dia tidak menangis saat aku cubit. Karena aku tidak benar-benar mencubit. Hanya untuk mengalihkan perhatiannya agar dia menatap wajahku. Mungkin dia menagis karena merasa takut melihat aku melotot. 😱😱😱 Kejam hehehe

Kemudian sambil mencoba menenangkan Khayla, istriku bilang “Sudah nggak apa apa, lain kali kalau pipis bilang, biar nggak di marahin ayah.” Seolah tak peduli, Khayla terus menangis sampai beberapa menit sampai akhirnya tertidur.

Paginya tak seperti biasa, yang suka nempel dan minta di pangku setelah bangun tidur. Dia tampak takut mendekati aku.

Sempat ada rasa khawatir anakku trauma melihat kemarahanku. Dan berakibat dia menjauh dariku. Segera aku peluk dan mencium pipinya yang masih bau iler. hihihi 😁😁😁 Tapi tak mengapa daripada dia trauma. Ya kan? πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›

Sejak pagi itu sampai aku menulis artikel ini. Ternyata Khayla kembali seperti biasa kalau mau pipis segera melepas celananya. Atau minta di lepasin sama ibu dan minta di antar ke toilet.

Dari kejadian itu aku menyimpulkan bahwa, balita juga perlu diberi hukuman. Akan tetapi harus memperhatikan beberapa hal.

Berikut beberapa hal yang perlu di pertimbangkan, sebelum memberikan hukuman pada balita versi ayah Juman hehehe…

1. Usia
2. Kesalahan yang di perbuat
3. Jenis hukuman
4. Kedekatan kita dengan anak

1. Usia kanak-kanak atau balita, tentu tidak baik jika di beri hukuman yang terlalu keras. Misalnya membentak, memukul, apalagi suruh push up. Hehehe

Khususnya usia balita dimana saraf-sarafnya sedang tumbuh dengan pesat. Terkadang kita tidak tau kenapa dia melakukan kesalahan. Bisa jadi ia sedang mengeksplorasi kemampuannya. Seperti misalnya anak yang memiliki kecerdasan kinestetik yang sangat aktif. Terkadang kita menilai dia anak yang hiperaktif.

Maka dari itu usia sangat perlu dipertimbangkan sebelum memberikan hukuman.

2. Kesalahan yang diperbuat.
Seperti kejadian pada anakku yang pipis di celana. Aku tidak membentak atau memukul. Hanya mencubit namun tidak sampai membuat si anak merasa sakit. Cukup agar dia tau bahwa, dengan dia melakukan itu membuat kita sebagai orang tua tidak suka atau bahkan marah. Berikan sikap dan pengertian bahwa kesalahan yang diperbuat itu tidak benar.

3. Jenis hukuman
Masih berkaitan dengan nomer dua. Setelah kita tau kesalahan yang di perbuat. Berikan hukuman yang sesuai dengan kesalan dan tetap memeprhatikan bahwa dia masih kanak-kanak. Misalnya jika si anak mencoret-coret tembok. Dari pada kita memarahi dia. Akan lebih baik jika setelah dia mmcoret-coret suruh untuk membersihkan. Atau jika anak menjatuhkan gelas atau piring dimeja. Daripada membentak. Alangkah baiknya menyuruh dia mebersihkan.

Untuk kejadian ini tentunya tidak semua anak bisa di beri hukuman seperti itu. Misal anak umur 10 atau 12 bulan yang baru belajar berjalan. Meskipun memecahkan gelas pastinya kurang tepat kalau di suruh membersihkan. Mungkin tepatnya ditaruh di nomor satu kali ya? Tapi udah terlanjur nulis. Nggak apa-apa lah disini juga. πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›

4. Kedekatan kita dengan anak juga perlu di perhatikan sebelum memberikan hukuman. Khususnya bagi kamu para ayah. Kebanyakan ayah kurang dekat dengan anaknya. Jangan sampai anak mengenal kita hanya sebagai hakim, yang hanya bisa memvonis hukuman saat anak melakukan kesalahan. Tapi bangunlah kedekatan dengan anak, agar ketika kita memberi hukuman. Anak tidak langsung menilai sebagai ayah yang galak. Jika ingin lebih dekat dengan anak bisa baca postingan saya 7 Rahasia menjadi ayah yang dekat dengan anak

Setelah mempertimbangkan beberapa hal. Kita juga harus punya alasan kuat kenapa balita perlu di beri hukuman jika melakukan kesalahan.

Inilah 4 alasana kenapa balita perlu diberi hukuman jika melakukan kesalahan menurut aku.

1. Sebagai pelajaran untuk mengetahui kesalahan.

2. Meminimalisir anak mengulangi kesalahan yang sama.

3. Melatih kedisiplinan.

4. Agar tumbuh menjadi pribadi yang baik.

1. Sebagai pelajaran untuk mengetahui kesalahan.

Dengan kita memberikan hukuman ringan, ketika si anak melakukan sesuatu yang kita anggap salah. Akan membuat dia memahami sedikit demi sedikit, perbuatan mana yang boleh dan mana yang tidak. Ya meskipun anak seusia itu belum bisa memahami sepenuhnya. Bahwa apa yang di lakukan itu benar atau salah. Setidaknya dia bisa memahami mana perbuatan yang membuat kita senang, dan mana yang membuat kita marah.

2. Meminimalisir anak mengulangi kesalahan yang sama.

Aku katakan meminimalisir anak mengulangi kesalan yang sama. Bukan memberi efek jera atau agar si anak tidak mengulangi kesalahan itu. Sebab, kita sebagai orang tua pasti tau, hampir bisa dikatakan mustahil bagi anak balita untuk tidak berbuat kesalahan yang sama. Tapi paling tidak, agar kesalahan sama yang di perbuat, tidak terjadi terlalu sering.

3. Melatih kedisiplinan

Dengan kita memberikan hukuman dan pemahaman. Kenapa dia boleh begini tak boleh begitu. Seiring berjalannya waktu akan membuat anak terlatih disiplin. Ya tentunya disiplin bagi anak tidaklah sama denga disiplin angkatan laut. hehehehe

4. Agar tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Tujuan utama kita mendidik anak, tak lain pasti agar anak memiliki pribadi yang baik. Tidak menjadi anak nakal, anak bandel dan lain sebagainya.

Syukur syukur menjadi anak cerdas, beprestasi dan bila besar nanti menjadi anak yang berguna bagi banyak orang.

Karena menurut saya, anak cerdas dan berprestasi adalah bonus. Sementara tujuan utama saya mendidik anak adalah agar memiliki budi pekerti yang baik.

Seperti ucapan seorang kyai yang aku dengar. Kalau nggak salah Kyai jailani.

Kurang lebih begini:

Jangan sampai punya anak-anak jago matematika tapi tidak tau agama, sehingga ketika kita meninggal nggak ada yang mendoakan. Sebab saking jagonya berhitung saat kita meninggal anak-anak sibuk menghitung warisan. hehehehe

Itulah alasan kenapa balita perlu diberi hukuman menurut saya.


Silahkan berikan rating bagi blog saya sesuai penilaian kamu.

Dan silahkan memberikan kritik agar blog saya menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi pembaca.

Iklan

13 respons untuk β€˜4 Alasan Kenapa Balita Perlu diberi Hukuman’

Add yours

  1. Bisa diterapin nih masa kalo nanti saya punya anak, intinya beri hukuman juga sebagai wujud rasa sayang kita ya mas. Karena akhirnya sang anak bisa belajar.

    Eh, mas buat judul, huruf awal dari setiap kata baiknya sih pakai huruf kapital, kecuali kata penghubung. Biar kesannya baku aja mas.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Dulu biasanya kami memberi hukuman dengan cara pasang muka marah dan mata agak melotot. Setelah berapa lama kami peluk sambil bilang kalau kami sayang dan jangan ulangi perbuatan itu lagi..hehe..
    Cuma ya itu kadang ga tega berlama-lama memarahinya..

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: